Petrichor, 28 November 2015

PETRICHOR

PETRICHOR
A Group Exhibition

Wangi Artroom
Artist :
Ayu Hapsari Z.
Mazaya Nazar
Mutiabunga
Rara Kuastra
Rulvi Lazuardi
Opening :
Sabtu, 28 November 2015
19.00 wibOfficiated by:
Ayu Arista MurtiPerformance :
Tiaswening Maharsi, Satya Prapanca, Pulung Fadjar Febrieka
Pietter LennonAritst Talk :
Rabu, 2 Desember 2015
16.00 wibLokasi :
Wangi Artroom // Kedai Koppi Bell
Jl. Bimo No. 88 Candirejo Sardonoharjo Ngaglik Sleman Kaliurang KM 13
Daerah Istimewa Yogyakarta
Indonesia

 

Mengingat Penelope, Membaca Musim

Siapakah Odysseus? Apa yang menarik di Ithaca hingga ia harus pulang? Tanahnya? Kekuasaan yang dimilikinya disana? Atau Penelope? Lantas siapa pula Penelope?

Teks cerita petualangan Odysseus berkelindan di kepala saya. Odysseus harus kembali ke Ithaca.  Bertaruh atas nasibnya, menghadapi segala tantangan perjalanan. Bisa saja menyempal  dari pakem utama, Odysseus memutuskan untuk tidak meneruskan perjalanannya. Bermukim pada sebuah tempat dan mengambil gadis setempat menjadi istrinya. Melupakan Penelope, membuang Ithaca jauh-jauh. Tapi tak, cerita itu mengharu-biru karena ia gigih akan ingatannya. Laci ingatan Odysseus mungkin soal feromon tubuh Penelope, bau mulutnya yang eksotik di pagi hari atau tanah Ithaca yang subur. Hal itu menyedot keinginannya, membatu menjadi cerita epik klasik.
Manusia adalah modus operandi sejarah karena hanya manusia lah yang sangat menghargai ingatan. Ilmu pengetahuan tumbuh bagai gedung-gedung beton angkuh hasil dari ingatan. Ingatan adalah lumba-lumba yang memberi arah manusia menuju tempat bernama kemajuan. Entah itu kemajuan dari titik sebelumnya dalam peradaban major, atau hanya langkah kecil dalam hidup personal sesorang.
Pada percepatan peradaban semenjak Guthenberg menemukan mesin cetak pertama, sejarah manusia menjadi ranah publik. Hasil olah pikir dicatat dan didokumentasikan. Dan semenjak itu pula manusia menemui sisi gelapnya, berbincang dengannya dan mungkin menggaulinya setiap malam. Sisi gelap yang hanya ada saat manusia atas nama kebebasan berpikir, mendayagunakan ingatannya lewat transformasi pengetahuam untuk melahap dan mendominasi. Dan melupakan alam, meluruhkan ingatan manusia soal pengendalian.
Hingga hari ini, perubahan iklim global hadir sebagai sebuah wacana yang seksi. Manusia dihadapkan kenyataan akan perubahan musim. Bulan penanda kalender yang seharusnya sudah merujuk musim hujan tak lagi pas. Keniscayaan adalah ketidakpastian yang tengah pergi entah kemana. Kerinduan menyeruak disana, mendorong doa dan asa agar tatanan musim kembali seperti sedia kala.
Kita adalah Penelope hari ini. Bukan lagi sebagai Odysseus yang dengan gigihnya ingin pulang ke Ithaca. Kita lah Penelope yang menunggu sambil merajut dan melakukan apa yang bisa dilakukan agar daya hidup sebagai manusia tetap terjaga. Tentang cintanya, juga lagi-lagi tanpa jemu, ingatannya soal Odysseus. Dan ini adalah fiksi paling nyata yang bisa disodorkan ke muka manusia.
Daya hidup manusia lah yang dahulu kala, seseorang berhasil menciptakan Odysseus. Pantulan sosoknya mengingatkan akan perjuangan manusia. Namun hari ini sudut pandang Penelope lah yang penting.  Sebuah sudut pandang yang menuntut keterlibatan personal agar berupaya untuk menjaga api ingatannya tetap hidup, jelasnya soal alam. Penyebabnya karena ada sesuatu yang hilang dan kemudian dirindukan untuk kembali.
Seperti bau tanah musim hujan misalnya. Sebuah bau yang sangat khas, terbawa udara yang mengingatkan kita kalau tanah basah oleh tirai air pertama dari angkasa. Nama untuknya, sebut saja Petrichor. Nama yang asing karena memang bukan berasal dari tanah ini. Nun jauh disana, dari tanah Sartre dan serangkaian nama-nama asing pernah hidup.
Bagi Penelope, kenangan akan Odysseus adalah Petrichor.  Bagi manusia, kerinduan akan Petrichor adalah Penelope. Manusia menunggu, berharap dalam daya terbatasnya membaca alam. Penungguan yang sejatinya tidak hanya pasif namun penuh tindakan. Bergerak, mencipta untuk mengada sembari terus melihat di ujung cakrawala kembalinya tatanan alam (meski dengan satir sebuah pertanyaan disorongkan, masih bisakah?). Laiknya tenunan Penelope menghitung hari datangnya pujaannya.

Pada ruang yang tak begitu besar, mengada lah lima orang. Sebut saja mereka Ayu, Bunga, Rara, Mazaya dan Rulvi. Empat berjenis kelamin perempuan dan satu adalah lelaki. Namun semuanya adalah Penelope yang merindu hadirnya Petrichor. Terbaca karya berkesenian yang menegaskan ‘Yang Ada’ pada diri mereka. Sebuah usaha yang sejak manusia mengenal profesionalitas, terkotakkan pada profesi.
Ya mereka seniman. Setidaknya calon seniman. Karya mereka adalah dialog personal mereka atas perubahan iklim yang terjadi. Tepatnya adalah menyoal kedatangan musim hujan yang dinanti. Dan menyematkan Petrichor sebagai landasan khusus terminal keberangkatan mereka. Petrichor, sebuah petanda datangnya musim basah hujan di negeri yang mengaku agraris ini.
Hadirnya representasi simbolik jelas  terbaca pada semua karya mereka. Pada karya Ayu terpampang sebuah karya intermedia antara seni grafis dan suara. Sebuah peta struktur kota ditingkahi oleh aneka ragam suara membawa kesadaran kemajuan peradaban manusia. Dan titik-titik peristiwa personal  Ayu akan memorinya tentang hujan ditandai dalam, karyanya.  Mentransformasikan karya tersebut menjadi sebuah wilayah personal sekaligus publik. Dualisme sifat ini dapat muncul karena manusia sebagai subyek yang mengalami peristiwa, hidup dalam kekinian yang difatnya dinamis.
Mazaya berbeda pula dalam penyikapannya atas Petrichor. Karya cetaknya yang yang memanjang ke atas, dominan hitam  seakan-akan seperti sebuah penjara atas peristiwa kebakaran asap yang tengah terjadi.  Banyak kecenderungan ornamental menjadi siasat representasinya menjadikan karyanya seperti ada pada sebuah negeri dongeng. Manusia ditampilkan hanya pada mata, menjadi tubuh yang tidak bebas, terkungkung pasif. Warna biru dihadirkan seperti kerinduan yang ingin ditumpahkan namun masih terbata, terkotakkan. Dan layaknya dongeng tentang penjara berbentuk menara, selalu ada jendela.; tempat sang putri menunggu pembebas yang muncul dari sana.
Berseberangan dengan Mazaya, Rara memunculkan kolase tempelan berbentuk daun dan akar. Juga adanya pot-pot tanaman. Namun semuanya bukanlah sungguhan, imitasi. Hadirnya memori masa lalu manusia adalah milik masa lalu. Kejadiannya mungkin dapat direkonstruksi lagi namun tidak dengan detilnya, juga atmosfer latarnya yang jelas berubah.  Kenangan personal Rara dengan keluarga dihadirkannya kembali, namun kali ini berbeda. Unsur imitatif karyanya justru menjadi penyanding kesadaran bahwa memori dapat dihadirkan lagi, namun bentuknya dimungkinkan berbeda. Setelah tahunan, masihkah Penelope sama persis? Atau Shinta harus membakar diri untuk menyatakan kesuciannya di depan Rama? Naif bukan kalau demikian adanya ?
Kemudian hadirlah Bunga. Ada dua karya yang ditampilkannya. Satu karya lukis dan yang lain instalasi. Pada karya lukisnya, terbaca sensualitas tubuh sebagai medium untuk mengungkapkan wilayah bawah sadar. Mungkin soal kenangannya akan event tertentu saat hujan. Tubuh pada karya Bunga ditampilkan seperti sesuatu yang fluid, mengambang. Tubuh menjauh dari keberadaannya yang real namun tubuh dipakai untuk mengeluarkan esensi keberadaan. Tonal warna yang saling ingin mendominasi menghadirkan ketegangan personal yang cukup puitik dan berani meski tidak sampai mencekam.
Karya Bunga yang lain adalah sebuah instalasi tentang bau. Karya ini menantang karena ingin menghadirkan Petrichor. Proyek ini bekerjasama dengan beberapa orang yang  berlatar teknik kimia. Latar belakang soal ingatan menjadi pokok perhatian. Meski riskan gagal, penjelajahan Bunga dalam menghadirkan aroma cukup dapat menjadi perhatian. Hal ini setidaknya karena kenangan manusia terbangun atas lima indera. Salah satunya adalah indera penciuman. Kekuatan indera penciuman bekerja secara otomatis dan mampu memunculkan imaji manusia akan  ruang dan waktu.
Dan yang terakhir adalah Rulvi dengan karya instalasinya. Pada sebuah kotak bak sepanjang  dua meter, terisi lah pasir dengan tengkorak monyet. Tengkorak itu mencuat begitu saja, sebuah suspence tercipta perihal kematian yang pekat. Mengikut garis Darwinian, menghadirkan tengkorak monyet sebagai origin evolusi manusia adalah langkah yang cerdas untuk kembali mengingatkan asal-usul manusia. Manusia adalah produk terkini evolusi tersebut namun juga paling cepat menghabiskan sumber daya alam yang dimiliki. Karya Rulvi  merupakan sebuah reflektor ‘kecil’ keberadaan manusia di semesta.
Secara umum, kelima seniman muda ini berusaha untuk mengelaborasi intertekstualitas dari satu karya ke karya lain. Meski dapat dibaca secara terpisah, kemampuan untuk dialog bersama tercipta.  Namun perlu diingat bahwa dialog tersebut hidup dalam konteks dialektika tematik yang sifatnya individualistik. Artinya, proses thesa, negasi dan sintesa terjadi secara aktif meski masih dalam wilayah yang personal dan sungguh permisif. Meski, dalam semangat dialektika yang baik, finalitas adalah sebuah proses ‘menjadi’ di masa akan datang.  Bahkan mungkin finalitas ada di genggaman apresian karya mereka.

In the river of boheme
G.M

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s