Pameran Bersama “Homo Barbarus”, 27 Januari 2016

 

 

Homo Barbarus

Homo Barbarus
A Group Exhibition

Wangi Artroom
Artist :
Reza D. Pahlevi
Anton Yuniasmono
Himaya Sodhie
Opening :
Rabu, 27 Januari 2016
19.00 wib
Officiated by:
Jimi Mahardikka
Performance :
Neurovibe
Aritst Talk :
Rabu, 3 Februari 2016
16.00 wib
Lokasi :
Wangi Artroom // Kedai Koppi Bell
Jl. Bimo No. 88 Candirejo Sardonoharjo Ngaglik Sleman Kaliurang KM 13
Daerah Istimewa Yogyakarta
Indonesia

Manual (Usang) Menyoal Sesuatu di Bawah Cakrawala  

Gerak daya pikiran manusia untuk bertahan hidup, membuat manusia menciptakan komunitas dan masyarakat. Kerjasama menjadi sebuah kata yang disepakati bersama. Meski hewan pun memiliki hal ini, namun secara statik, perikatan hewan dengan hewan lain sejenis muncul sebagai reaksi bertahan hidup harian. Manusia bertindak lebih jauh dari itu, karena struktur akal yang mendasarinya. Akal yang terberi dan teredukasi ini membuat manusia melangkah lebih jauh dari sekadar bertahan hidup namun juga menguasakan.

Dominasi dipandang sebagai strategi untuk mempertahankan keberlangsungan hidup. Metode dominasi demikian mendorong manusia membuat nomenklatura aturan yang dibakukan, sebut hal demikian berkembang menjadi ilmu. Mereka yang dominan berusaha melegitimasikan kemanusiaan dalam ruang norma dan etiknya sendiri. Di satu sisi muncullah superioritas kemanusiaan dalam wajah agama, bangsa, komunitas, nilai tukar uang bahkan dalam sosok raja, ketua RW, dan ayah atau ibu dalam patron keluarga.

Kehadiran pihak yang terdominasi, dalam sebuah relasi kekuasaan menjadi sesuatu yang harus diredam, entah dalam kosa ini dibiarkan tumbuh namun tidak (rela) untuk dominan atau malah dihancurkan. Elitisme pengetahuan dan cara mengelola kekuatan pengetahuan (baca: sistem uang, cara kelola region dan militer) menjadi alat kuasa yang bertujuan untuk dominasi. Dalam peta dominasi, kekuatan ‘yang lain’ hidup dalam garis bawah narasi pihak yang dominan.

‘Dalam tradisi Romawi kuno, ‘the others’ adalah ‘homo-barbarus’ (manusia asing, tapi juga dapat diartikan sebagai ‘anjing’). Mereka layak dihina karena tidak memiliki martabat sebagaimana manusia (humanitas), tidak murni turunan ilahi yang dicirikan oleh kemampuannya mencicipi keabadian (aionion) melalui kekuatan “jiwa yang tak pernah mati” atau akal budi murni (logos) melalui pendidikan dan latihan kesusastraan (paideia).’ (Haryanto Cahyadi; sebuah esai tentang poskolonial)

Bagaimana dengan Indonesia? Indonesia hari ini adalah sebuah telaga indah yang di airnya dapat dijumpai banyak sampah dan penjual jajanan di sepanjang tepian telaga. Jajanan itu berupa industrialisasi barang populer, bantuan modal asing, pertarungan atas nama agama, primordialisme suku dan sekelumit kecil kios yang (mungkin) masih bertahan menjajakan cerah budi tentang manusia.

Seperti Octavia Paz yang bernafas dalam bahasa Spanyol dan di saat yang sama merasakan Aztec dalam darahnya, Indonesia tumbuh dalam perlintasan moda budaya yang lebih intens namun sumir. Sejarah mendedahkan bahwa Status quo menjadi ranah yang paling menjadi perhatian dan diperebutkan, suka maupun tidak, dari dulu sampai sekarang. Sekumpulan kecil kelompok berusaha melanggengkan kekuasaan dan dominasinya lewat agen-agen sosialnya, entah itu yang paling nyata seperti lewat militer atau GBHN di jaman Orde Baru ataupun yang paling tidak kentara lewat film atau sekaleng Coca-Cola.

Meski demikian, manusia tetaplah manusia. Dengan elan vital pada dirinya, manusia membangun proyek adaptasinya begitu cerdasnya dan sangat bersifat lokal. Tak pelak, cara pandang yang khas personal sebagai subyek ‘ingatan-yang mengalami’ sesungguhnya menjadi noktah penting peradaban. Apalagi dalam situasi terkini, saat kesepakatan pandangan antara noktah tersebut memunculkan dinamika di dalam kacamata besar budaya dominan. Mungkin tak lagi dalam kerangka perubahan yang masif dan fisikal sifatnya, namun lebih kepada penggubahan peradaban yang dimamah antara sesuatu tindakan harian yang serius dan populer.

Maka, pilihan menghadirkan ‘sekali lagi’ ide dominasi dalam kacamata ‘homo barbarus/the others’ menjadi sebuah kerja deskripsional yang dapat dilakukan. Sebuah cara untuk mengecek ulang posisi, tempat pijak kemanusiaan dengan focus interest yang bermacam-macam. Sosok yang memang pantas ditampilkan karena di tangan ‘unidentified number of voice’ ini lah sesungguhnya peradaban berjalan dengan seluruh proses adaptasinya.

Seringkali, dengan pendekatan ‘empirik-objektif’ logika ilmu, kehadiran homo barbarus adalah sosok-sosok yang diperlakukan sebagai sesuatu yang dapat dicateris paribus kan, dihilangkan. Namun dalam keasingan menjadi ‘yang’ tak terbaca, remah-remah kegelisahan akan pemaknaan peradaban dapat ditelusur lewat ‘bacaan’ yang lebih personal, unik dan keseharian. Meski pada prosesnya, dalam humor gelap peradaban yang berjalan,  keterjebakan pada hysteria, pada anomali psikologi massa atau dalam unit social menjadi varian yang sungguh mengasyikkan. Dan perjalanan sang kala jelas tidak dapat terduga. Just enjoy it, tentu saja dengan kejamakan cara masing-masing untuk menikmatinya. Mungkin sedikit meminjam dan menggubah pembukaan apik dalam grafis novel V for Vendetta menjadi penutup tamasya singkat ini.

‘Selamat malam, Indonesia. Kini jam 7 malam dan anda mendengarkan SUARA TAKDIR di gelombang 275 dan 285 MW… Hari ini tanggal 27 bulan 1 tahun 2016.’

Sapere Aude

G. Marhaendra

Catatan :

  1. Octavio Paz adalah sebuah mediasi awal yang saya pakai untuk berdialog dengan para pengkarya pada pameran ini.
  2. Pencuplikan kata ‘ Homo Barbarus’ yang menjadi judul pameran diambil dari essai Haryanto Cahyadi dalam sebuah bunga rampai tulisan dalam buku ‘Hermenetika Pascakolonial”.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s